gravatar

Memahami majas

1. Pengertian puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang bahasanya dipadatkan, dipersingkat, diberi irama, dengan bunyi yang padu, dan dengan pemilihan kata-kata bias (imajinatif).

Karena puisi sering kali memakai kata-kata yang konotatif, maka tidak jarang kita menemukan majas di dalamnya.

2. Pengertian majas
Majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang mempergunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan dan buah pikirannya.

3. Jenis-jenis majas
Pada dasarnya majas dibedakan menjadi empat, yakni:
A. Majas perbandingan,
B. Majas sindiran,
C. Majas penegasan, dan
D. Majas pertentangan.

A. MAJAS PERBANDINGAN
(1) Personifikasi
Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup.

Contoh personifikasi:
- Baru tiga km berjalan mobilnya sudah batuk-batuk.
- Daun nyiur melambai-lambai ditiup angin.
- Bel berdering memanggil siswa untuk masuk kelas.

(2) Metafora
Majas yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama.

Contoh metafora:
- Raja siang telah pergi ke peraduannya.
(raja siang = matahari)
- Dewi malam telah keluar dari balik awan.
(dewi malam = bulan)

(3) Eufimisme
Majas yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata lain untuk sopan santun.

Contoh eufimisme:
- Para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah.
- Pramuwisma bukan pekerjaan hina.

(4) Hiperbola
Majas yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti.

Contoh hiperbola:
- Kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya.
- Soal matematika itu sulit sekali sampai pecah kepalaku mengerjakannya.
- Suara anak itu mengeledek.

(5) LitotesMajas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.

Contoh litotes:
- Perjuangan kami hanyalah setitik air dari samudera luas.
- Jika datang ke kotaku, silakan mampir ke gubuk kami.

(6) Sinekdoke
Sinekdoke dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
- Pars pro toto
- Totem pro parte

(A) Pars pro toto
Majas sinekdoke yang melukiskan sebagian tetapi yang dimaksud adalah seluruhnya.

Contoh pars pro toto:
- Dia mempunyai lima ekor kuda.
- Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.

(B) Totem pro parte
Majas sinekdoke yang melukiskan keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian.

Contoh totem pro parte:
- Kaum wanita memperingati hari Kartini.
- Bandung berhasil merebut juara 1 Liga Bandung.

(7) Simbolik
Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan memperbandingkan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang.

Contoh simbolik:
- Dari dulu tetap saja ia menjadi lintah darat.
(lintah darat = lambang pemeras atau pemakan riba)

(8) Asosiasi
Majas perbandingan yang memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat.

Contoh asosiasi:
- Wajahnya muram bagai bulan kesiangan.
- Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa menggunakan garam.

(9) Metonimia
Majas perbandingan yang menggunakan merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu.

Contoh metonimia:
- Kemarin ia memakai Fiat, sekarang naik kijang (merk mobil).
- Kakekku suka menghisap djarum (merk rokok).
- Lebih baik naik Garuda daripada Merpati (maskapai penerbangan)
  
B. MAJAS SINDIRAN
(1) Ironi
Majas yang melukiskan sesuatu yang menyatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud untuk menyindir orang.

Contoh ironi:
- Harum benar baumu, sampai-sampai semua orang menutup hidungnya.
- Bagus benar tulisanmu, sampai sulit kubaca.
- Baik betul kelakuanmu, sampai-sampai semua orang mencibirmu.

(2) Sinisme
Majas sindiran dengan menggunakan kata-kata sebaliknya seperti ironi tetapi agak kasar.

Contoh sinisme:
- Itukah yang dinamakan bekerja.
- Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkan oleh orang terpelajar sepertimu.
- Lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.

(3) Sarkasme
Majas sindiran yang terkasar serta langsung menusuk perasaan.

Contoh sarkasme:
- Otakmu memang otak udang!
- Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!
- Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus!

C. MAJAS PENEGASAN
(1) Pleonasme
Majas penegasan yang menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu diterangkan lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkan.

Contoh pleonasme:
- Salju putih sudah turun ke bawah.
- Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan pesawat tempur.

(2) Repetisi
Majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kata berkali-kali, yang biasanya digunakan dalam pidato.

Contoh repetisi:
- Kita junjung dia sebagai pemimpin, kita junjung dia sebagai pelindung, kita junjung dia sebagai pembebas kita.
- Jangan ragu-ragu Saudara –saudara, selama matahari masih beredar, selama bulan masih memancar, selama nafas masih mengalun, kami akan tetap memperjuangkan nasib kalian.

(3) Pararelisme
Majas penegasan seperti repetisi tetapi dipakai dalam puisi.

Pararelisme dibagi menjadi tiga, yakni:
- Anafora: Pengulangannya terletak di awal
- Epifora: Pengulangannya terletak di akhir
- Anafora-epifora: Pengulangannya terletak di awal dan di akhir

Contoh anafora:
Kalaulah diam malam yang kelam.
Kalaulah tenang sawang yang lapang.
Kalaulah lelap orang di lawang.

Contoh epifora:
Kalau kau mau, aku akan datang.
Jika kau kehendaki, aku akan datang.
Bila kau minta, aku akan datang.

Contoh anafora-epifora:
Kami jemu pada lagu
Kami benci pada lagu
Kami runtuh karena lagu.

(4) Tautologi
Majas penegasan yang melukiskan suatu dengan mempergunakan kata-kata yang sama artinya (bersinomin) untuk mempertegas arti.

Contoh tautologi:
- Saya khawatir serta was-was akan keselamatannya.
- Hal itu tidak kami inginkan dan tidak kami harapkan.
- Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara.

(5) Klimaks
Majas penegasan dengan menyatakan beberapa hal berturut-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang makin lama makin memuncak pengertiannya.

Contoh klimaks:
- Menyemi benih, tumbuh hingga menuainya, aku sendiri yang mengerjakannya.
- Anak-anak, remaja, hingga dewasa datang menyaksikan film “Laskar Pelangi”.

(6) Antiklimaks
Majas penegasan dengan beberapa hal berturut-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang makin lama makin melemah pengertiannya.

Contoh antiklimaks:
- Jangankan seribu, atau seratus, serupiah pun aku tak punya.
- Di kota dan desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan HUT RI ke -62.

(7) Retorik
Majas penegasan dengan mempergunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.

Contoh retorik:
- Mana mungkin orang mati hidup kembali?
- Apakah ini orang yang selama ini kamu bangga-banggakan?

D. MAJAS PERTENTANGAN
(1) Antitesis
Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti.

Contoh antitesis:
- Cantik atau tidak, kaya atau miskin, bukanlah suatu ukuran nilai seorang wanita.
- Bahasa dapat menunjukkan tinggi rendahnya bangsa.

(2) Paradoks 

Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan padahal maksud sesungguhnya tidak karena objeknya berlainan.

Contoh paradoks:
- Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai.
- Tini orang kaya, tetapi si Tono miskin.

(3) Kontradiksio interminis
Majas pertentangan yang memperlihatkan pertentangan dari penjelasan semula.

Contoh kontradiksio interminis:
- Semua murid kelas ini hadir, kecuali si Hasan yang sedang ikut jambore.
- Semua anak mendapat nilai 90, kecuali si Budi karena ia tidak mengerjakan PR dengan benar.


*download bentuk powerpoint-nya di sini

Catatan cara download:
1. klik tulisan "sini" di atas ini lalu Anda akan masuk ke link adf.ly
2. tunggu selama 5 detik lalu klik "skip ad" di pojok kanan atas.
3. kemudian "klik" download
4. masukan verification code sesuai dengan kode yang ada di sampingnya dan sekali lagi klik "download"
5. selesai

Member of TOP SERATUS

100 Blog Indonesia Terbaik

Twitter

Google Translate